DI sebuah ruang kelas yang barangkali pudar dalam ingatan, tapi terus hidup dalam narasi yang melampaui fakta, seorang tua dengan rambut perak dan sorot mata yang jauh melampaui zaman, berdiri di depan papan tulis. Einstein—nama yang kelak akan dijadikan idiom bagi kecerdasan itu sendiri. Namun hari itu, ia tak bicara soal relativitas atau energi yang dikonversi menjadi massa. Ia bicara soal kesalahan.
Einstein menulis tabel perkalian di papan tulis. Ia tulis satu per satu: 9 x 1 = 9, 9 x 2 = 18, hingga akhirnya sampai pada 9 x 10, dan ia menuliskannya: 9 x 10 = 91. Sebuah kesalahan yang telanjang dan nyata. Murid-murid tertawa, seperti kita semua mungkin juga akan tertawa. Bagaimana mungkin seorang jenius, ikon dunia sains modern, keliru dalam hitungan anak SD?
Tapi Einstein tak membalas tawa itu dengan marah. Ia pun tak menghapus kesalahan itu buru-buru. Ia biarkan angka “91” bertengger di papan tulis, seperti seekor burung yang tak tahu bahwa ia telah bertengger di dahan yang salah. Ia hanya berkata, dengan tenang, barangkali nyaris seperti bisikan, “Kalian menertawakan satu kesalahan saya, tapi kalian tidak menghargai sembilan kebenaran yang saya berikan.”
Begitulah, sebuah kelas berubah menjadi cermin. Tiba-tiba, yang tertawa menjadi yang tertertawakan. Bukan oleh Einstein, bukan oleh siapa pun, tapi oleh diri mereka sendiri. Sebab bukankah begitu adanya kita? Begitu lekas menemukan cela, begitu lambat mengenali upaya. Kita lebih mudah menunjuk jari ke kekeliruan seseorang, daripada menunduk dan merenungi kerja keras yang telah mereka jalani.
Kesalahan, dalam narasi ini, bukan sekadar kekeliruan angka. Ia adalah metafora dari sesuatu yang lebih dalam. Einstein, sadar atau tidak, mengajarkan bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang terlalu reaktif terhadap kegagalan dan terlalu pelit dalam mengapresiasi keberhasilan. Sembilan jawaban yang benar tak cukup untuk menebus satu kesalahan. Satu “91” bisa menenggelamkan sembilan kebenaran yang sempurna.
Mungkin benar, bahwa sejarah sering kali bukan hanya tentang apa yang terjadi, tapi tentang bagaimana kita memilih untuk mengingatnya. Maka dari itu, cerita Einstein ini, meski mungkin tak tercatat dalam arsip resmi atau biografi akademik, tetap hidup dan penting. Sebab ia mengandung semacam “kebenaran puitik”—sebuah peristiwa yang mungkin rekaan, tapi mengandung hikmah yang lebih dalam daripada peristiwa faktual yang hampa makna.
Dan dalam dunia seperti ini, di mana media sosial menjadikan kita hakim yang instan dan publik yang tak sabaran, kisah seperti ini menjadi oase yang langka. Kita hidup dalam zaman ketika satu kesalahan bisa diviralkan, dipermalukan, dilipatgandakan oleh algoritma, hingga melupakan konteks, kerja keras, dan niat baik. Kita jarang diajari untuk bersabar terhadap proses, terhadap ketidaksempurnaan manusia.
Einstein ingin mengatakan: kesalahan bukan tanda kegagalan, tapi jejak dari keberanian untuk mencoba. Kesalahan bukan kutukan, tapi pintu yang membawa kita menuju pengertian. Bahkan dalam hitungan sederhana, terkandung filsafat yang kompleks: bahwa kehidupan bukanlah akumulasi dari benar dan salah, tapi perjalanan yang penuh belokan, ragu-ragu, dan perbaikan.
Dalam budaya kita yang kerap menghukum lebih dulu sebelum memahami, cerita ini bisa menjadi pengingat: bahwa guru sejati bukan hanya yang memberi jawaban, tapi yang sanggup menjadikan kesalahan sebagai bagian dari pelajaran itu sendiri.
Dan jika suatu hari kita sendiri keliru—karena pasti akan keliru—semoga kita berjumpa dengan orang-orang yang lebih seperti Einstein, dan kurang seperti para murid yang tertawa itu. Sebab dalam kehidupan yang serba cepat ini, tak semua kesalahan perlu ditertawakan. Beberapa justru perlu dihargai, sebagai batu pijakan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita sendiri.***
Penulis: Afrizal Akmal
*) Penulis adalah murid Sekolah Kesadaran.
Tinggalkan Balasan